Kalahari Zebra has invited you to be his contact.

DeclineAccept
Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryNov 17, '07 1:07 AM
for everyone
Susah Temukan  Tokoh Yang Ikhlas Berjuang

 dan

Konsisten  Membangun Bangsa

 

 
Ditemui di rumahnya yang asri di dusun Panggungharjo Sewon  Bantul Yogyakarta. Iip Wijayanto tampak hangat menyambut kami. Sang penulis  fenomenal yang beristri seorang dosen fakultas kedokteran, dr. Titik Kuntari  ini,  pernah menggegerkan Yogyakarta karena hasil penelitiannya yang dipublikasikan salah satu penerbit nasional  tahun 2002,  dalam buku yang terjual hingga 65.000 eks. Itu 97,05% mahasiswi di Yogya tidak perawan lagi,  meski metode  teknik samplingnya pernah menjadi polemik tetapi kebenaran jajak pendapatnya tak perlu diragukan.

Iip yang lahir di Bengkulu tahun 1979, adalah mantan aktivis HMI MPO dan BPM Universitas Islam Indonesia (UIIP) Yogyakarta. Penulis muda pengasuh rubrik konseling pada berbagai media masa dan radio di Yogya  ini  pernah  kuliah    pada jurusan Teknik Sipil UII,  jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada  dan jurusan Komunikasi pada Universitas Terbuka. Kurun waktu 1999-2007 ini dia telah menulis lebih dari 30 buku.

Bertutur di serambi rumah yang didesign tahan gempa, karena putri sulungnya  Muhammadina Ramadanisa (3,5 thn) pernah trauma akibat gempa bumi yogyakarta tahun 2006 lalu yang merobohkan rumah pertamanya, Iip lontarkan berbagai sisi kehidupan anak muda Yogya dengan gamblang dan tajam, mulai dari sex, seni, olah raga hingga politik. Dengan diselingi tangisan si kecil Muhammadina Nurul Aulia (4 bln),  perbincangan dengan koresponden Pemuda Indonesia (PI), Yayan Hadiyan, hampir  sulit dihentikan. Berikut ini petikan hasil  wawancaranya :

 

PI

:

Antusiaseme apa yang terjadi pada kehidupan anak muda sekarang terutama di Yogyakarta ini?

Iip

:

Ini konteksnya di Yogyakarta ya, mungkin musik. Karena kalau sudah ada audisi itu bisa antrinya berkilo-kilo meter. Jadi pragmatisme ingin jadi terkenal, ingin jadi kaya adalah sebuah impian, dan ideologi  pragmatismenya ini sudah menginternalisasi. Kan tidak banyak remaja yang tertarik pada bidang penelitian atau jadi penulis ha..ha.., kalaupun ada orientasi buku-buku yang ditulis  juga polanya ya pragmatisme tadi..

PI

:

Terkait dengan peringatan hari kemerdekaan yang rutin kita lakukan, apakah mereka cukup menyadari arti kemerdekaan itu apa dan perjuangan para pahlawannya?.

Iip

:

Nah ini sepertinya memang banyak yang tidak mengerti. Karena  mereka itu lahir di alam kemerdekaan dan mereka merasa kemerdekaan adalah sebuah keniscayaan, kan tiba-tiba sudah merdeka, sudah enak, ya  apresiasi terhadap hari kemerdekaan dan para pahlawan yang merebutnya memang dirasa kurang.

 

PI

:

Beda dengan apa yang kita lihat pada penghayatan para veteran perang kemerdekaannya, lalu perlu sarana apa ya untuk  membangun kesadaran ini?

Iip

:

Ya, kuncinya sebenarnya harus ada pola pembinaan yang tepat. Sampai sekarang tampaknya masih mencari-cari. Mungkin bisa melalui seni, seperti film . Misalnya sebagaimana digambarkan dalam film The Last Samurai, bagaimana  kita orang non-Jepang itu dapat merasakan nasionalisme itu tumbuh sedemikian rupa.. dan nilai-nilainya amat kuat diceritakan di sana bagaimana perang tidak mau menggunakan senjata api karena melanggar tradisi lalu bagaimana mereka yang muda menghormati para pendahulunya dan lain-lain.. juga dalam film The Patriot,  kita yang bukan orang Amerika saja bisa merasakan kegairahan sebuah nasionalisme. Kita dapat melihat bagaimana doktrin militer mereka yang begitu kuat.

 

Kita sebenarnya punya  banyak profile tentang pahlawan-pahlawan  yang juga bisa difilm-kan. Tetapi memang harus dibuat  film yang baik. Misalnya saja tokoh seperti Bung Tomo, mendengar orasinya di RRI Surabaya itu dari televisi sekarang ini sampai  berdiri bulu kuduk kita. Namun tidak banyak yang mengenal Bung Tomo secara mendalam. Contoh ke belakang lagi misalnya Wahid Hasyim, itu adalah seorang tokoh yang paling berperan pada fase itu tentunya dalam mengkondisikan komunitas santri.. tetapi Wahid Hasyim tidak  mendapat cukup proporsi untuk diperkenalkan pada media-media buku sejarah. Maka sekarang ini bagaimana sebenarnya kepahlawanan itu dapat diaktualisasikan dalam media-media kontemporer dan bisa menarik perhatian melalui teknis-teknis audio visual dan promosi yang lebih bagus. Sehingga seperti film The Last Samurai tadi .

PI

:

Selain pemerintah, tugas pembinaan kan bisa juga ditangani organisasi keagamaan,  menurut Anda?

Iip

:

Ini tidak mudah, karena untuk tokoh keagamaan sendiri di Indonesia, kita yang muda merasa sedang kehilangan figur tokoh tauladan misalnya masih adakah kyai yang betul-betul  bisa meng-imami (memimpin) masyarakat. Mayoritas kyai kan hanya bisa mengimaminya di masjid dan di media, mereka mengajarkan tentang banyak konsep kesederhanaan tetapi gaya hidup mereka tetap borjuis, mereka mengajarkan konsep keikhlasan tetapi mengundang pengajian mereka memasang tarif yang sangat mahal. Ada juga mereka yang mengajarkan keluarga yang sakinah, harmonis, setia tapi mereka kawin lagi. Mereka  baru mangaku, setelah ketahuan oleh media.

 

Ya bisa saja, tetapi yang paling penting dalam membina para pemuda itu menurut saya adalah berjuang dengan  ikhlas, siapapun dapat ambil bagian, tetapi ilmu ikhlas itulah yang tidak banyak dimiliki oleh kebanyakan orang sekarang. Kyai dulu orang yang tidak terlalu banyak berbicara, tapi prestasi pembinaannya jelas. Karena mereka memang tulus.

 

Menceramahi orang lain itu kan perkara mudah., tetapi mengubah dirinya sendiri sulit. Sama dengan para pahlawan dulu, mereka jadi panutan karena inti perjuangannya adalah ikhlas dan untuk rakyat. Tapi jika para pembina itu  tidak ikhlas, maka seperti fenomena sekarang  banyak penceramah dimana-mana tetapi tidak menyentuh.mungkin malah lebih efektif karena mendengar lagu religi-nya Band Ungu.  Konsep pembinaan itu banyak yang jujur tetapi manifestasinya banyak tidak jujur.. ini kan tidak mendidik dan tidak bisa dijadikan tauladan.

PI

:

Bagaimana dengan lembaga pendidikan  ?

Iip

:

Ya ini bisa tetapi ada ironinya, katakan saja ada perguruan tinggi yang berlabelkan agama dengan mayoritas  SKS-nya adalah mata kuliah agama tertentu, tetapi herannya mahasiswa atau alumninya banyak juga yang menyumbangkan penyakit masyarakat. Seperti freesex, narkoba dan lain-lain.

 

Mengapa demikian? karena mata kuliah yang diajarkan tadi itu : pertama, tidak menyentuh sasaran, sehingga yang diajarakan itu bukan sesuatu yang  mereka butuhkan. Misalnya yang mereka butuhkan itu bagaimana hukum pacaran? Itukan kebutuhan yang mendesak, tapi tidak pernah dijelaskan. Tidak ada dalam kurikulum penjelasan tentang  itu  atau tentang hukum onani  ..menurut beberapa penelitian hampir 99% laki-laki melakukan onani. Tetapi hal ini tidak dijelaskan juga dalam kurikulum yang ada.

 

 Sementara itu yang dipelajari adalah hukum haji, padahal mereka masih lama naik haji, demikian juga hukum zakat, padahal  selama ini mereka banyak yang  numpang pada orang tuanya.. begitu juga hukum waris toh mereka juga belum proporsional mewariskan sesuatu.  Jadi intinya materi yang diajarkan itu masih banyak yang belum menjawab apa yang  dibutuhkan para pemuda itu. Jadi kebanyakan lembaga pendidikan sekarang bagi saya sih masih tanda tanya.

 

PI

 

Nah bagaimana jika keluarga sebagai unit terkecil, efektifkah menjadi unit pembinaan bagi pemuda-pemuda kita? 

Iip

 

Agak sulit karena bapknya yang mengajarkan keluarga sakinah itu kan kawin  terus.. ha..ha.. tapi begini yang penting keluarga itu harus punya inti perjuangan.  Orang tua harus punya ideologi, sehingga dia punya kewajiban. untuk menstransfer ideologi itu kepada anak-anaknya.. lihat saja keluarga mantan-mantan aktivis, mereka lebih punya ideologi.. selama  dari aspek finansial mereka tidak kelabakan, karena benturan ekonomi dapat membuat orang berpikir pragmatis dan akibatnya akan kehabisan energi  untuk membina keluarga dengan baik.

 

PI

 

Oh, ya Anda pernah meneliti anak-anak kost di Yogya pada tahun 2002 yang sudah banyak tidak perawan lagi, itu fenomena apa sebenarnya?

Iip

 

Ya itu cerminan degradasi spiritualitas yang membawa implikasi ke semua titik, secara knowledge (pengetahuan), sains karena orang memahami agama sebagai sains,  mereka unggul. Mereka memperoleh nilai A dan B tetapi nilai-nilai itu tidak bisa ditransfer dalam kehidupan sehari-hari...

 

Maka ketika terjadi degradasi spiritualitas maka implikasi yang dekat dengan anak-anak muda ya seksualitas. .karena saya melihat ada jeda waktu yang sangat panjang untuk mencapai usia perkawinan..katakan wanita mulai haid umur 11 tahun sedangkan boleh menikah usia  20 tahun misalnya. Maka ada jeda waktu 9 tahun mereka kebingungan melampiaskan kompensasi terhadap hasrat seksualnya.

 

Oleh karena itu pelampiasanya ya merefers  buku, majalah, tabloid, internet, ceritera teman-teman dan lain-lain yang nyerempet-nyerempet.. sebenarnya sama dengan fenomena  yang terjadi di kalangan orang tuanya, mungkin bagi mereka yang alim ya poligami, yang agak-agak  rusak ya selingkuh, yang alim tapi mendapat penolakan dari keluarganya ya kawin sembunyi (sirri).. tapi di kalangan anak muda tidak berpikir sejauh itu ya...

 

Mereka berpikir pendek bagaimana melampiaskan hasrat sex nya saja..mereka yang berkomitmen melakukan pacaran banyak yang merantau di Yogya dan tidak bisa dipantau langsung oleh orang tua, menurut saya, kemungkinan tidak melakukan pelanggaran  sex sangat tipis.. karena mereka saya pikir belum bisa melakukan kerusakan lebih parah dari itu.

 

Korupsi mungkin belum banyak jalan, jadi yang paling dekat bagi sebagian anak muda yang demikian ya narkoba dan  tawuran adalah pelanggaran lain yang paling mungkin.

PI

 

Wah kalau mendengar begini, bicara anak muda dan  Hari Kemerdekaan rasanya perlu kerja keras ya kita orang-orang yang lebih tua?

Iip

 

Ya itulah,   saya bilang memang dimana-mana masih banyak kemunafikan, oleh karena itu saya tidak mengagumi seseorang sebelum dia menyelesaikan agenda hidupnya, dalam arti kata kalau belum mati maka masih mungkin berubah..

 

Kalau mau mengagumi ya kagumi para tokoh-tokoh yang sepanjang hidupnya konsisten.tapi saya masih lihat beberapa tokoh yang baik dengan tetap menjaga etika berpolitik misalnya. Lihat   saja mantan ketua umum salah satu partai besar selama tiga dasawarsa, dia masih tetap ada di partai itu, meski terus memberikan kritik-kritik yang tajam, tapi dia tidak keluar dan terus lari membuat partai baru. Saya kira sekarang kita butuh tokoh-tokoh politik muda nasional yang fair dan ikhlas yang berjuang benar-benar untuk bangsa dan negara...

 

PI

 

Pesan untuk anak-anak muda atau mahasiswa di Yogyakarta khususnya dalam konteks idealisme dan politik  ?

Iip

 

Ya itulah saya melihat bila idealisme dibenturkan dengan problem ekonomi , maka idealisme cenderung kalah. Oleh karena itu mereka perlu melakukan lompatan yang tepat jangan sampai terjerembab pada pragmatisme dan perlu belajar  terus bekerja keras.. sehingga mau hidup sedikit bersusah-susah lah.. kita harus hargai moment reformasi ini.

 

 Kasihan dulu Pak Amin (Prof. Amin Rais-red)  kan sudah menggulirkan ide di tingkat atas, lalu kita kan yang muda-muda menyambut di level bawah. Kita kan siap aja sebagai bagian yang digebuki polisi, disiram dengan water canon, kena lempar batu  dan lain-lain.., kita berharap banyak dalam konteks perubahan ini, tetapi saya belum melihat perubahan yang signifikan.

 

Saya pernah coba-coba masuk partai politik 6 bulan kemudian keluar. Saya tidak sanggup menahan ideologi yang mulai tak ada tempat di sana, dan tidak cakap menyimpan kapan ideologi dikedepankan dan kapan disimpan dulu di belakang. Khusus untuk gerakan politik mahasiswa saya sarankan  ya hindari kemunafikan, sehingga layak ditauladani.

 

Saya tidak setuju gerakan mahasiswa itu berafiliasi pada satu gerakan polilitik, bagi saya sampai kapanpun lembaga mahasiswa harus tetap jadi oposisi bagi rezim otoritarian.. Kalau pemerintahnya baik ya perlu dukung, tapi kalau tidak baik ya tugasnya mereka untuk melakukan perubahan, dan   jangan sampai gerakan mahasiswa itu dijadikan ajang  mekanisme kaderisasi kekuatan politik praktis..

PI

 

Untuk menghindari para aktivis kampus berubah arah seperti diperankan beberapa tokoh kita pada masa Orde Baru dulu?

Iip

 

Kuncinya jangan belajar munafik sejak dini itu. Ya kalau awalnya murni-murni aja setelah jadi pejabat banyak yang melenceng, apalagi yang jika sejak jadi mahasiswa  sudah berpolitik praktis .. Mahasiswa itu berplolitik tapi high politic yang mereka harus lakukan bukan politik praktis.

 

Saya mencoba memahamkan pada adik-adik sekarang bahwa tanpa ikut berpolitik praktispun kita bisa memberikan kontribusi.. apalagi dengan perubahan undang-undang  tata cara pemilihan kepala daerah itu yang membolehkan munculnya  calon independen, terlihat bahwa fungsi dari partai politik semakin sempit.. sehingga jika tidak berkarir di suatu parpol pun, berlari ke dunia politik yang sesungguhnya pun bisa.

 

Sebenarnya ada fungsi-fungsi politik lain yang bisa diperankan misalnya menjadi kontrol wacana dalam media-media masa, menulis buku, menjadi pembicara dalam seminar..ya untuk konteks lokal saja misalnya  mendorong Pemda membuat perda tentang Minuman Keras dan Pelacuran.

 

PI

 

Maaf ini tentang menulis, bukan kah dalam konteks mengisi kemerdekaan bisa dikategorikan berjuang bagi anak muda sekarang?

Iip

 

Oh iya pasti , tetapi menjadi penulis yang baik perlu punya etos yang kuat.  Hampir semua  penulis lahir dari tradisi membaca yang baik, saya belum menemukan seorang penulis yang baik itu  tidak  memiliki kultur membaca.

 

Nah celakanya banyak generasi muda kita tidak banyak tertarik membaca buku-buku yang idealis, akhirnya para penulis juga banyak melihat trend. karena misalnya sekarang trend-nya buku-buku tentang sex ya sudah itulah yang ditulis...tapi ya paling tidak dia bisa menitipkan atau menambahkan sesuatu yang bermanfaat.

 

Saya pernah  jalan-jalan ke salah satu taman bacaan dan melihat halaman-halaman  buku berbobot masih bersih dan seperti belum disentuh, hanya di halaman-halaman tertentu saja bertutur  sex yang kumal karena dibaca, wah kacau juga kan?..

 

Coba kalau ingat Imam Khomeini di Iran, kan dia mengobarkan revolusi itu dari tulisan yang samar-samar saja awalnya. Dia diasingkan ke Paris, tapi tulisan-tulisannya dimasukan ke Iran oleh murid-muridnya dan bisa mendoktrin sehingga terjadi gelombang revolusi, demikian  juga Bung Karno dan Bung Hatta pada masa itu di Indonesia.

 

Khusus untuk di Yogya, saya melihat antusias anak-anak muda atau mahasiswa menulis sudah cukup baik, tetapi saya tidak tahu di kota lain. Intinya pena itu lah yang menjadi senjata intelektual yang bisa mempengaruhi orang dalam jumlah banyak dan daya jelajah yang luas. Kita bisa bandingkan dengan ceramah di masjid yang menarik 100 orang saja mungkin tidak mudah.

PI

 

Bagaimana dengan olah raga, seperti Main Bola yang ditunjukan supporter kita saat  kejuaraan Asia beberapa bulan lalu, apa efektif membangkitkan nasionalisme?

Iip

 

Saya pikir  baik ya. Mungkin satu-satunya cara untuk mempersatukan semua perbedaan walaupun cuma beberapa menit itu ya melalui event olah raga dan itu cara yang baik membangkitkan nasionalisme. Lihat saja bagaimana mereka bisa bergairah menyanyikan lagu kebangsaan dalm event itu.

 

Lihat juga  bagaimana di Irak saat itu, 1-2 hari di sana larut dalam kegembiraan kan tidak terjadi perang, tidak ada bom-boman . Saya melihat efek dari olah raga untuk menyatukan semua komponen bangsa ini sangat efektif. Tinggal bagaimana agar animo yang demikian besar ini pada olah raga tidak hanya untuk persatuan semata tapi juga kebanggaan..kita kan mungkin punya penonton yang terbanyak, masa mencari 11 orang  terbaik dari 200 juta jiwa ini kok  sulit ya?

 

Bahkan saya melihat perlu dibuat satu kementerian khusus tentang Sepak Bola. Kalau Menpora bisa membawahi departemen olah raga kan di daerah mungkin di bawah dinas pendidikan nasional (Diknas) apa ya? Karena saya kira belum ada event yang bisa membangkitkan euforia sehebat sepak bola.

 

Orang bisa melupakan konflik dan  masalah kenaikan BBM sejenak. Orang tidak perduli membeli kaos tim kesayangannya dengan harga 75-150 ribu demikian juga tiket..ya paling tidak menteri muda khusus sepakbola deh atau  dirjen sepak bola lah.. zaman Pak Karno dulu juga kan ada menteri agama, menteri ulama, menteri urusan haji dan lain-lain.

 

Bahkan dalam konteks internasional kita bisa kenal Nigeria, Kamerun kan sebagian besar juga dari adanya event sepak bola..jadi sepakbola itukan alat promosi yang efektif  ?...  dalam konteks prestasi termasuk orang asing yang mau jadi WNI dan nasionalismenya baik mengapa tidak kita tarik saja?, kan yang asli pribumi dengan nasionalisme babak belur juga banyak. Lihat saja saat Prancis menarik Zinedine Zidan yang orang Aljazair dan Spanyol menarik yang merekrut Deco dari Brazil?

 

PI

 

Bagaimana dengan olah raga lain? Seperti atletik  kan terkesan terpinggirkan? Kan ada waktu untuk Menpora yang sekarang menyiapkan program berjangka,  baik sebelum ataupun setelah 2009.

Iip

 

Yang pasti harus ada pencanangan  target yang konkret. Secara umum bisa dikatakan dari target yang ada lalu kita breakdown  program-programnya, sehingga kalaupun ganti menterinya maka program-program tadi masih bisa terus berlanjut. Dan menteri yang baru harus punya kewajiban merealisasikan target yang ditetapkan menteri sebelumnya, sehingga proses ini menjadi berkesinambungan siapapun yang akan menjadi menterinya. * (yy/dry)*

 

 

 


Add a Comment
   
© 2012 Multiply · English · About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · API · Help · Sitemap

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.